Dalam keseharian, kita tidak lepas dari lingkungan rutinitas yang dapat membuat tumpul hati yang peka dan membelenggu kesadaran yang sehat. Rutinitas akademik, organisasi maupun bisnis, terkadang dalam kenyataannya perlahan dapat merenggut kepemilikan hati dan otak kita. Sehingga takluk kepada kaisar materialisme yang memiliki banyak tentara. Orientasi hidup dan penyebab senyuman sudah berubah. Tidak lagi karena ridha Allah dan tertegaknya nilai-nilai kebenaran, tapi asal sang kaisar materialisme itu senang maka selesailah urusan.
Ini adalah rutinitas yang melalaikan, yang akan terasa besar dampaknya jika dalam waktu lama dibiarkan. Persis seperti krisis kedelai di negara ini, lalai memotivasi petani dan terlalu tergantung pada kedelai impor mengakibatkan perekonomian goyang ketika harga kedelai dunia melonjak. Seolah-olah ketika para importir dan negara pengimpor senang maka selesailah urusan, peduli amat akan kondisi rakyat dan visi swasembada pangan. Dengan ringan kaisar materialisme berkata “itu untuk orang lain, gak ada untungnya kamu lakukan…yang penting kamu cukupi diri kamu sendiri dulu”, dan celakanya, ternyata ada yang percaya!
Pada awalnya memang bisa dibedakan antara yang benar dan yang tidak benar, yang baik dan yang lebih baik. Namun akibat dari rutinitas kelalaian mengakibatkan sulit dan berat untuk menempuh jalan yang mengarah kepada kebenaran.
Pada suatu hari, Umar bin Khattab ra ditanya oleh seseorang, “wahai amirul mukminin, bukankah engkau pernah membuat berhala dari kurma dan memakannya ketika sedang kelaparan. Apakah engkau tidak memiliki akal?” Umar ra menjawab, “wahai anakku, ketika itu kami memiliki akal, tetapi kami tidak memiliki hidayah”
Ada perbedaan antara sekedar membedakan baik dan buruk, dengan berjalan ke arah yang baik dan menjauhi jalan ke arah yang buruk (hidayah). Menempuh jalan kepada kebaikan adalah jalan menanjak sedangkan yang sebaliknya, jalan menurun, adalah menuju kepada keburukan. Jalan ke atas terlihat sulit, dan jalan ke bawah terlihat mudah dan menyenangkan. Maka perlu gaya ke atas yang lebih besar, daripada gaya berat akibat gravitasi yang akan terus menarik ke arah bawah.
Begitu mendalam, tidak pantas untuk dilupakan…
Dalam konsep Neuro-Linguistic Programming (NLP) atau bisa dimaknai sebagai konsep pemrograman otak dikatakan bahwa seorang manusia dapat memprogram otaknya dengan mengingat sebuah momen yang begitu berkesan bagi dirinya. Sehingga kenangan terhadap momen itu bisa membawa semangat yang luar biasa.Terlebih jika momen tersebut memberikan kesan yang begitu mendalam bagi seluruh indranya.
Dalam menentukan momen sebagai awal penanggalan di tahun hijriyah, Umar ra memilihkan momen yang dapat memberikan kesan mendalam bagi seluruh hamba Allah. Yaitu hijrahnya Rasulullah saw, yang lebih dari sekedar berpindah tempat dari makkah ke madinah. Hijrah adalah momen awal dalam pendirian negara Islam di Madinah. Hijrah adalah momen demostrasi kekuasaan Allah dalam menyelamatkan hamba yang Ia kehendaki, ketika laba-laba langsung membuat sarang dan burung langsung bertelur di depan gua ketika Rasulullah saw dan sahabat masuk ke gua. Hijrah adalah momen yang menunjukkan kekuatan Iman dua orang hambanya,” laa tahzan, innallaha ma’ana” (jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita) kata yang satu kepada yang lain, walaupun kafir quraisy yang bengis sedang mencari di luar gua. Hijrah adalah momen perjuangan yang lebih dari cerita Hitler dalam Main Kampf (My Struggle), yaitu momen perjuangan Abu Bakar ra untuk melindungi Rasulullah saw. Ketika kakinya rela digigit ular, ketika berlindung dari sergapan kafir quraisy, ketika berjalan kaki lebih dari 10 hari, dan banyak lagi.
Umar ra sudah memahami bahwa ummat ini membutuhkan momen yang sangat mendalam untuk meluruskan orientasi kembali sebagai orang beriman. Menguatkan lagi bekal, agar tidak takluk dan bahkan bisa menaklukkan kaisar materialisme dan seluruh bala tentaranya yang lalim. Hingga bisa terus konsisten dalam berjalan ke arah yang benar, dan kuat dalam menjauhi jalan keburukan. Ini momen luar biasa, yang tidak pantas disia-siakan oleh semua yang sadar bahwa dirinya adalah hamba Allah.
Allahumma arinal haqqo haqqo, warzuqna ittiba’ah
Ya Alllah tunjukkanlah pada kami bahwa yang benar itu benar adanya, dan berilah kami keukatan untuk mengikutinya.
Waarinal bathila bathila, warzuqna ijtinabah.
Dan tunjukkanlah pada kami bahwa yang buruk itu buruk, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya
Ditaklukan oleh kaisar materialisme atau menaklukkannya? Kita sendiri yang bisa menjawab pertanyaan ini …
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1429 H, semoga tahun ini lebih baik daripada tahun kemarin.
Allahuakbar!